FKIP adalah salah satu fakultas favorit di Universitas Lambung Mangkurat di propinsi Kalimantan Selatan. Fakultas yang medidik calon-calon guru masa depan yang akan menggantikan guru – guru yang ada sekarang sebagai pendidik dan pengajar. Oleh karena itu para calon guru disini di bentuk sedemikian rupa hingga benar-benar siap menjadi tenaga pendidik di masyarakat nantinya.
Terlepas dari itu semua fasilitas yang ada di kampus FKIP 1 sangat lah kurang memadai dikarenakan kurang adanya perhatian dari pengurus kampus terhadap keadaan kampus. Bila dilihat lebih detail lagi sering kita lihat bila musim penghujan datang, kampus ini sering sekali tergenag air hujan hinnga hampir meluap masuk kedalam kelas atau ruangan yang digunakan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar dan mengajar. Keadaan ini diperparah dengan tersumbatnya atau mampetnya saluran air atau drainase yang ada di kampus ini karena permasalahan sampah. Padahal bila dilihat kembali dengan permasalahan itu saya lihat ada petugas kebersihan yang digaji untuk membersihkan sampah ada di sekitar areal kampus dan sekitarnya. Setiap hari dia selalu melakukan tugasnya, tetapi mengapa masih saja banjir melulu tiap turun hujan. Dan yang lebih gilanya lagi para pejabat dan pegawai atasan seperti dekan dan para pembantunya dan karyawan-karyawan yang lain seakan cuek bebek dan menutup mata akan hal ini, dan tidak melakukan apa-apa serta menganggap bahwa semua itu adalah hal yang lumrah, sungguh gila bukan ? padahal dengan saluran air yang tersumbat atau mampet tadi dapat mengganggu proses belajar dan mengajar di kampus, bila proses belajar dan mengajar tersebut terganggu, bukankah akan mempengaruhi bagaimana pemahaman dan penerimaan mahasiswa atas materi yang di berikan oleh pengajar atau yang biasa disebut dengan dosen, dan bila itu terganngu dan tidak efektif, bagaimana dapat menghasilkan guru yang profesional.
Sungguh kenyataan yang miris bila melihat itu. Dengan masalah saluran air yang sampai sekarang hanya dianggap sebagai masalah sepele saja oleh orang-orang atasan yang mereka mengganggap diri mereka sebagai dewa penyelamat yang suci, padahal gaji mereka juga dan semua fasilitas kelas VIP yang mereka nikmati juga di peras dari kami – kami juga sebagai mahasiswa yang kuliah di kampus ini. Tetapi seakan- akan mereka tidak peduli pada nasib – nasib kami sebagai mahasiswa yang jauh-jauh datang merantau dari kampung ke kampus FKIP untuk mengejar cita-cita menjadi seorang guru. Tetapi yang didapat hanyalah sepatu basah, jalan lorong yang becek, halaman yang tergenang air dan lain sebagainya, padahal dalam kenyataannya dapat dilihat di dalam saluran air tersebut banyak terdapat sampah-sampah yang menumpuk dari bagian administrasi yang membuang sampah sembarangan di saluran air yang menyebabkan tersumbatnya saluran air yang ada dikampus.
Jadi bagaimana solusinya yang harus dilakukan untuk menyelesaikan maslah saluran air ini, padahal masalahnya hanya soal sepele saja tapi bila dibiarkan berlarut-larut dapat membahayakan kampus FKIP juga. Bagaimana jika seandainya tidak ditindak lanjuitu hingga 10 tahun kedepan, Maka FKIP mungkin akan menjadi kenangan saja karena telah tergenang air hinnga tidak dapat digunkan lagi sebagai tempat pendidikan para calon guru masa depan. Padahal anggaran dana tiap tahun ajaran dan tiap semester selalu bertambah, tetapi mengapa hanya digukan untuk hal yang bisa dibilang sia-sia. Bukannya untuk memperbaiki keadaan saluran air yang ada di kampus FKIP. Dengan itu mungkin hanya dengan mengandalkan mahasiswanya yang harus menyelesaikannya, karena pihak atasan tidak ada yang dapat diandalkan. Padahal seharusnya mahasiswa hanya tahu belajar dan belajar saja. Sedangkan masalah saluran air tersebut adalah maslah atasan yang di gaji untuk mengayomi dan melayani mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar